Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (DPP PAN) Hatta Rajasa disebut salah satu tokoh yang dianggap layak sebagai pendamping Jokowi dalam pertarungan Pilpres mendatang. Dua nama lainnya adalah Jusuf Kalla, dan Rizal Ramli.
Hal ini dikatakan oleh pengamat politik dari
Charta Politika, Arya Fernandez, ketiga nama tokoh itu memiliki
kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Meski begitu, harus dipilh
salah satu Hatta Rajasa akan lebih unggul dibanding yang lain.
"Hatta bisa lebih melengkapi dengan Jokowi bila berpasangan di Pilpres 2014," kata Arya Rabu (19/3).
Diambil sisi representasi partai, lanjutnya,
maka yang paling berpeluang adalah Hatta. Kalau diambil sisi
representasi daerah, maka Hatta dan Jusuf Kalla sama-sama memiliki
peluang.
Jokowi tambahnya lagi, perlu didampingi oleh
sosok yang memiliki gaya yang berbeda dengan dirinya yang easy going.
Kemudian, tak terlalu prosedural, dan tak terlalu birokratis. Dalam
konteks itu, Jusuf Kalla memiliki kelemahan karena memiliki gaya yang
mirip dengan Jokowi.
"Bisa susah nanti. Bisa-bisa nanti ada matahari kembar," imbuh Arya.
Dari sisi kemampuan me-manage isu
perekonomian, ketiganya bisa dianggap memiliki kemampuan perekonomian.
Namun, baik Rizal Ramli dan Jusuf Kalla memiliki kelemahan karena tak
memiliki partai politik sendiri.
"Kelemahan Rizal Ramli, tak ada back up di
partai. Dan kalau PDIP menang pemilu legislatif di atas 20 persen,
mungkin mereka lebih senang memakai kader sendiri sebagai cawapres,"
jelasnya.
Di atas itu semua, Hatta, menurutnya,
memiliki berbagai keunggulan. Selain empat jabatan menteri di tiga
periode pemerintahan pernah diemban, Hatta juga dikenal sangat
berpengalaman dalam dunia politik.
"Hatta itu sangat berpengalaman, sehingga dia seksi dan banyak dibidik siapapun," imbuhnya.
Masalah yang mungkin dihadapi Hatta adalah
meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahwa dirinya adalah
seorang profesional. Yang mampu memberi nilai tambah bagi rezim
berikutnya. .
"Tugas Hatta sekarang adalah meyakinkan Megawati bahwa tugas itu memang cocok untuk dia," katanya.
Sebelumnya, hasil survei Indo Barometer yang
bekerjasama dengan Lembaga Psikologi Politik Universitas Indonesia (LPP
UI) yang dirilis beberapa hari lalu, menunjukkan ada lima tokoh dengan
indeks kepemimpinan tertinggi. Mereka adalah Joko Widodo (7,55 ),
Prabowo Subianto (7,07), Megawati Soekarnoputri (6,58), Aburizal Bakrie
(6,38) dan Hatta Radjasa (6,15).
Survei tersebut menggunakan 10 indikator
untuk mengukurnya yakni visioner, leadership, intelektualitas,
ketrampilan politik, komunikasi politik, stabilitas emosi, ketegasan,
kemampuan manajerial, penampilan, dan integritas moral.
Kemudian, survei yang disampaikan juga
melakukan simulasi tokoh yang paling berpeluang sebagai cawapres dari
partai berbasis Islam dimana Hatta berada di puncak dengan peroleh
elektabilitas 16 persen, dan disusul Muhaimin Iskandar (6,2 persen),
Yusril Ihza Mahendra (3,7 persen), Suryadharma Ali (2,9 persen), dan M
Anis Matta (0,9 persen).
Simulasi Indo Barometer juga menemukan bila
pasangan Jokowi-Hatta unggul 34,3 persen dibandingkan Prabowo-Pramono
Edhie yang hanya mendapat 15,4 persen, dan pasangan ARB-Muhaimin 12,7
persen, serta Wiranto-Hary Tanoe 10,3 persen.
Terkait dengan kemungkinan duet Jokowi-Hatta,
Ketua MPP PAN Amien Rais pada , Jumat (14/3/2014) lalu di Kantor DPP
PAN menyatakan bahwa politik bersifat dinamis.
“Politik itu kan open handed commodity. Kalau
sudah bicara kepentingan nasional, itu kita bicara bukan lagi harus
dengan ini dan anti dengan itu,” kata Amien.







0 comments:
Post a Comment